Review What If…? (2021): Menyelami Realitas Alternatif Marvel

Review What If…? – What If…? adalah serial animasi pertama Marvel Studios yang (katanya) masih berada di lingkup Marvel Cinematic Universe. Serial ini mengajak kita berimajinasi bagaimana jika kejadian-kejadian di film-film Marvel tidak terjadi seperti seharusnya, dan bagaimana dampaknya pada universe itu. Serial ini terasa seperti sebuah antologi yang didongengkan oleh sosok ekstraterestrial ikonik Marvel yang mampu memantau segala kejadian penting yang terjadi di multiverse, The Watcher.

Setiap episode What If…? menawarkan cerita dan universe yang benar-benar berbeda dari episode sebelumnya dan juga dari universe Marvel yang sudah kita ketahui. Kesembilan episode juga berfokus pada karakter yang berbeda-beda, ada yang fokus pada kisah Captain Carter, Star-Lord, Doctor Strange, Nick Fury, dan juga yang lainnya.

what if zombie scene

Perbedaan cerita di serial ini ada yang bermula dari sebuah perbedaan kecil dari plot di MCU, misal posisi berdiri Agent Carter yang tidak sesuai yang seharusnya ketika eksperimen serum super soldier akan dilakukan, ada juga yang bermula dari perbedaan yang cukup substansial dan terkesan random, seperti Killmonger yang tiba-tiba muncul di Afghanistan dan menyelamatkan Tony Stark.

Kerandoman asal mula cerita di tiap episode inilah yang membuat saya sedikit kurang excited ketika menunggu episode baru tiap minggunya. Setiap episode baru terasa seperti gacha dengan peluang ’50:50′, akan bagus atau akan buruk, tidak ada yang setengah-setengah. Cerita sebuah episode bisa terkesan ditulis dengan sangat niat atau terkesan ditulis hanya sebagai filler atau plot device episode terakhir. (Yup, episode terakhir akan menggabungkan karakter-karakter yang diceritakan di episode-episode sebelumnya.)

what if ultron zola scene
The ‘real’ Age of Ultron

Dari sembilan episode yang disajikan, saya hanya suka tiga, episode Doctor Strange, Ultron, dan Captain Carter. Lima episode sisanya sangat meh, antara terasa kurang serius dalam penulisannya, kurang masuk di akal, atau terlalu terasa seperti plot kartun anak. Bahkan, ada satu episode yang plotnya sangat (sorry to say) sampah, judulnya ‘What If… Thor Were an Only Child?‘. Plot episode ini seolah-olah ditulis dalam keadaan mabuk. Meskipun review mayoritas penonton cenderung positif, saya rasa Marvel tetap harus benar-benar menyaring penulis untuk season selanjutnya dengan lebih baik jika ingin What If…? lebih sukses.


Kualitas animasi yang ditampilkan cukup oke, meskipun menurut saya terlalu basic untuk studio sekelas Marvel. Lagi-lagi ada sejumlah episode yang animasinya lebih rapi daripada episode-episode yang lain. Ketika jelek, animasi karakter di What If…? ini bisa turun ke level animasi khas channel YouTube ‘How It Should Have Ended(no offense). Dengan telah dikonfirmasinya What If…? Season 2, saya berharap kualitas animasi di season selanjutnya bisa dipertahankan dengan baik atau bahkan bisa ditingkatkan lebih baik lagi dibandingkan season ini.

what if doctor strange scene

Untuk segi voice acting saya rasa sudah cukup memuaskan. Meski tidak semua voice actors karakter di What If…? adalah para pemeran asli di MCU, para voice actors pengganti mereka punya suara yang cukup mirip, sehingga saya seringkali tidak menyadarinya. Mereka juga berhasil memberikan jiwa dan emosi kepada karakter yang dibawakan, terutama Benedict Cumberbatch. Episode ‘What If… Doctor Strange Lost His Heart Instead of His Hands?‘ mampu membuat saya ikut merasa sedih dan iba.

Seingat saya, sebelumnya Marvel pernah mengatakan jika serial What If…? adalah canon (menjadi bagian) dengan MCU. Tapi, saya tidak menemukan hubungan yang gamblang dengan timeline MCU sekarang. Ada beberapa easter eggs yang mungkin menyiratkan hubungannya, tapi itu belum cukup meyakinkan untuk disebut canon. Entahlah, mungkin kita harus menunggu hingga Doctor Strange in the Multiverse of Madness rilis untuk mengetahui jawabannya.

Overall, terlepas dari segala komplain saya untuk serial ini, What If…? masih cukup layak untuk ditonton. Saya sih menganggap ini sebagai tester untuk multiverse yang sebenarnya mau diangkat Marvel Studios ke layar lebar. Ya, mungkin serial ini hanya sebagai ajang latihan Marvel Studios. Setelah mengetahui episode-episode mana yang digemari oleh para penonton serial ini, saya rasa Marvel Studios akan paham apa yang perlu diperhatikan ketika mengombinasikan berbagai versi dari sebuah cerita menjadi sesuatu yang baru dan menarik.

RATING: C