Review The Falcon and the Winter Soldier (2021): Dampak Buruk Jentikan Tony Stark

Review The Falcon and the WInter Soldier (2021) – Serial ini adalah serial tie-in kedua yang dirilis setelah WandaVision. Format yang digunakan The Falcon and the Winter Soldier memiliki sejumlah perbedaan, di antaranya adalah jumlah episode yang lebih sedikit dengan durasi lebih panjang tiap episodenya. Keenam episode The Falcon and the Winter Soldier sudah bisa ditonton di Disney+ Hotstar.

Serupa dengan WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier mengambil periode waktu setelah Tony Stark menggunakan infinity stones untuk mengembalikan orang-orang yang hilang akibat jentikan jari Thanos. Serial ini mencoba mengungkap fakta lain bahwa kembalinya orang-orang itu tidak selamanya membawa dampak yang baik bagi orang-orang yang tidak terdampak jentikan jari Thanos.

Meskipun berada di periode waktu setelah WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier sama sekali tidak menyinggung kejadian-kejadian di WandaVision. Serial ini fokus kepada dunianya sendiri.

The Falcon and the Winter Soldier dibuka dengan adegan Sam Wilson menyerahkan tameng dari Steve Rogers kepada pemerintah Amerika Serikat. Ia menganggap dirinya tidak layak memiliki tameng itu, apalagi menyandang gelar Captain America. Di luar dugaannya, pemerintah Amerika Serikat malah sudah menyiapkan sosok pengganti Steve Rogers sebagai Captain America yang baru.

Dia adalah John Walker, seorang anggota militer Amerika Serikat yang telah lama mengabdi pada negaranya. Bucky Barnes yang mengetahui hal ini seketika tidak terima dengan keputusan tersebut dan langsung mendatangi Sam untuk menasihatinya.

falcon and winter soldie scene

Sam yang sebenarnya sedang tidak ingin diganggu karena tengah menangani sebuah misi dengan terpaksa mengajak Bucky untuk menjalani misi dengannya. Belakangan dari misi itu diketahui bahwa sedang ada suatu organisasi baru bernama Flag Smashers yang ingin meruntuhkan pemerintahan di berbagai negara. Motivasi mereka melakukan itu adalah karena pekerjaan dan tempat tinggal mereka terenggut oleh orang-orang yang kembali di akhir Avengers Endgame.

Dibandingkan dengan Loki dan WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier secara garis besar memiliki teknik editing dan pengambilan gambar yang paling mirip dengan film-film MCU. Hal ini membuatnya tampak seperti sekuel dari Captain America: The Winter Soldier dan Captain America: Civil War. Bukan hal yang negatif sebenarnya, hanya saja akan lebih baik jika memiliki style unik sendiri agar terasa lebih fresh.

Meskipun memiliki style editing yang mirip dengan dua karya Russo brothers, gaya penulisan cerita The Falcon and the Winter Soldier bisa dibilang jauh lebih fresh dan menghibur. Kombinasi Anthony Mackie dan Sebastian Stan benar-benar bekerja dengan efektif. Chemistry mereka sangat terasa di setiap adegan maupun dialog sehingga membuat cerita menjadi sangat fun dan kocak.

Basically, plot dari serial ini terbagi menjadi dua: menuntaskan permasalahan Flag Smashers, dan menangani John Walker sebagai Captain America yang baru. Jujur saja, untuk bagian plot Flag Smashers saya menilainya cukup membosankan. Saya sulit untuk berempati dengan para anggota Flag Smashers ketika melihat tindakan mereka. Menurut saya akan lebih baik jika sisi baik Flag Smashers ditonjolkan dengan lebih baik.

the falcon and the winter soldier stills

Untuk plot John Walker, menurut saya cukup oke. Transformasi dirinya di akhir The Falcon and the Winter Soldier juga membuat saya merasa lega, because I believe he could do better. Tapi plot ini juga bisa di-improve dengan menambah screen time John Walker dan Lemar Hoskins untuk memberikan kesempatan mereka mengembangkan chemistry-nya. Kenapa begitu? Karena di pertengahan serial ini Lemar terbunuh dan saya tidak begitu shocked karena merasa tidak begitu mengenal karakternya.

Selain itu, poin tambahan perlu diberikan untuk serial ini karena berhasil mengintegrasikan isu rasisme ke dalam cerita dengan baik. Menurut saya isu rasisme yang akhir-akhir ini jarang diangkat ke dalam film, serial TV, ataupun game dibandingkan dengan isu LGBT perlu lebih disorot lagi. Langkah Marvel untuk memasukkan topik rasisme dalam transformasi Sam WIlson yang merupakan orang kulit hitam menjadi Captain America adalah keputusan yang tepat.

Seperti WandaVision, The Falcon and the Winter Soldier juga menunjukkan transformasi karakter-karakter utama di episode terakhirnya. Saya belum yakin bagaimana Marvel Studios akan menangani cinematic universe mereka nantinya karena cukup banyak hal baru yang dihadirkan maupun diungkap di sini. Meski begitu, The Falcon and the Winter Soldier mampu membuat saya semakin excited dengan apa yang akan dihadirkan Marvel Studios selanjutnya.

RATING: B+