Review The Batman (2022): Bermain Teka-Teki untuk Mengungkap Kebobrokan Sistem

Review The Batman – Belum puas menghadirkan Joker versi Joaquin Phoenix, DC mencoba mendefinisikan ulang karakter Batman dengan menghadirkan Batman baru versi Robert Pattinson. Bagi saya yang sangat kurang puas dengan cara Batman versi Ben Affleck dimasukkan ke DCEU, saya tentu sangat welcome dengan usaha DC Comics dan Warner Bros. untuk mewujudkan satu versi Batman yang ‘nendang’ sehingga kita bisa move on dari universe Batman versi Christopher Nolan yang diagung-agungkan banyak orang, termasuk saya.

adegan the batman still 2022

Sejujurnya, saya kurang suka dengan kostum Batman versi Robert Pattinson a.k.a. Battinson saat pertama kali di-reveal ke publik oleh Matt Reeves selaku sutradaranya. Tapi, saya mencoba bersikap welcome dan open-minded, karena saya dulu juga kurang suka advanced suit di game Spider-Man garapan Insomniac Games dan pada akhirnya kostum itu malah jadi kostum Spider-Man favorit saya hingga sekarang. Selain itu, track record film-film Robert Pattinson belakangan ini juga bagus-bagus. I really liked The Lighthouse, so this one may be a good one as well.

Berita dari film ini sudah sangat lama digembar-gemborkan, tapi saya tidak mau menaruh harapan berlebih pada DC mengingat film DC ini seringkali seperti gacha, bagus atau tidaknya seperti untung-untungan. Ketertarikan saya dimulai ketika trailer utama film ini dirilis, trailer yang ini.

It hyped me up to the core. Now, let’s talk about the film.

adegan the batman scene 2022

The Batman (2022) menceritakan Batman di tahun keduanya menjadi vigilante, pembasmi penjahat-penjahat di kumuhnya jalanan kota Gotham. Di tahun kedua ini ia mendapatkan tantangan baru, seseorang yang dijuluki The Riddler mengeksekusi sejumlah public figures karena ‘kekorupan’ mereka. Batman ditantang untuk menangkap The Riddler sebelum korban-korban lain berjatuhan dan situasi politik kota Gotham semakin pelik.


Ketika baru masuk di awal film dan sedikit menjelajahi sudut-sudut kota Gotham, saya rasa Matt Reeves paham apa yang membuat Gotham itu Gotham. Dari pengalaman saya memainkan game-game Arkham series dan membaca beberapa komik Batman, Gotham punya vibe dan style tersendiri yang membuatnya berbeda dari kota-kota nyata di Amerika. Aspek inilah yang kurang ditonjolkan oleh Gotham versi Christopher Nolan, dan saya sangat bahagia ketika Gotham versi Matt Reeves ini terasa lebih Gotham meskipun dengan pendekatan yang sama-sama realistis.

Selain Gotham, Matt Reeves juga tampaknya paham apa yang membuat Batman itu Batman, dan apa yang membedakannya dengan Bruce Wayne. Di versi Battinson ini, Bruce Wayne terasa ingin sepenuhnya menjadi Batman, dia tidak tertarik menjadi Bruce Wayne. Berbeda dengan Bruce Wayne versi Christian Bale yang flamboyan dan cenderung playboy, Bruce Wayne versi Robert Pattinson lebih banyak diam layaknya seorang introvert.

adegan the batman stills 2022

Sepertinya Matt Reeves berusaha memaparkan hal yang seringkali ditunjukkan di komik-komik Batman, yaitu menganggap bahwa Bruce Wayne hanyalah topeng dan Batman adalah identitas sebenarnya, ke cerita Batman versinya. Ini terlihat dari sedikitnya total screen time Bruce Wayne dibandingkan Batman. Perbandingan porsi kemunculan Bruce Wayne dan Batman bisa dikatakan 1:9. Ini bukanlah hal yang baru, di game-game Arkham series kita malah hampir sama sekali tidak pernah melihat Batman melepas topengnya. It’s a fine thing to do as long as it serves the plot well.

Dari segi plot cerita, sebenarnya film ini kurang lebih mirip dengan The Dark Knight (2008). Karakter antagonis cenderung memainkan protagonis dengan teka-tekinya, dan protagonis seolah-olah tidak berkutik dibuatnya. We’ve seen this before. Tapi, yang membuatnya kali ini berbeda, adalah The Riddler sepenuhnya bergerak di belakang layar dan membuat keseluruhan plot lebih make sense. Saya akui Joker di The Dark Knight lebih ikonik, tapi cara bagaimana dia seorang diri memperoleh banyak massa yang mau membantunya dalam waktu yang singkat saya akui kurang realistis. Selain itu, karakter-karakter pendukung, seperti Jim Gordon, Selina Kyle/Catwoman, dan Oz Cobblepot/Penguin, juga dimasukkan ke dalam cerita dengan lebih rapi dan smooth. Mereka adalah bagian dari keutuhan cerita film ini dan bukan dihadirkan hanya demi fan service.

adegan the batman alfred scene 2022

Salah satu kelemahan film ini menurut saya ada pada ending-nya. Entah kenapa ending-nya kurang terasa se-impactful ending film-film Batman karya Nolan. Tapi hal ini hanyalah minor complaint dari saya, karena saya sendiri belum bisa memberikan saran yang pas agar ending-nya bisa lebih ‘wow’. Saya rasa ending-nya sudah pas untuk sebuah film yang mungkin menjadi awal dari trilogi Batman baru. Ending film ini sudah cukup untuk mendorong Batman menjadi lebih baik dalam melakukan pekerjaannya jika ia ingin mengubah kota Gotham dengan segala carut-marutnya. Selain itu, hubungan Bruce dan Alfred seharusnya lebih dikembangkan lagi karena saya rasa sebuah cerita Batman kurang lengkap tanpa porsi Alfred yang cukup di dalam cerita. He keeps Batman from going over the top.

Oh iya, teknik sinematografi dan soundtrack yang digunakan di film ini juga seperti topping yang melengkapi sebuah makanan elit. Banyak shot keren di adegan-adegan film ini yang saya yakin cocok dijadikan wallpaper atau bahkan background meeting Zoom. Overall, film ini membuat saya yakin DC Cinematic Universe masih bisa diselamatkan.

RATING: A