Review Spider-Man: No Way Home (2021): MCU Kedatangan Tamu-Tamu Tak Diundang

Review Spider-Man: No Way Home – Akhirnya, film yang mungkin paling ditunggu di tahun ini telah rilis. Saya takjub melihat antusiasme orang-orang akan film ini. Terakhir kali saya merasakan hal seperti ini adalah ketika perilisan Avengers: Endgame. Saya beruntung bisa menonton film ini pada hari penayangan perdana. Jadi, apakah film ini mampu memuaskan rasa penasaran dan ekspektasi orang-orang? Mari kita bahas.

Relax. There’s no spoiler here.

adegan spider man no way home scene doctor strange

First of all, alur cerita film ini sudah bisa ditebak dari trailer-trailer yang dirilis oleh Marvel/Sony. Saya rasa kalian tidak perlu menonton analisis-analisis dari banyak channel YouTube yang membahasnya untuk tahu bagaimana plot film ini akan berjalan. Jujur saya sedikit menyesal malah karena sudah nonton trailernya, karena ceritanya sesederhana itu. Film ini hanya menambahkan detail dan bumbu-bumbu pemanis untuk tema ‘Multiverse‘ yang digadang-gadang film ini.

Jadi, apa film ini membosankan? Of course not. Film ini punya banyak adegan aksi CGI yang memanjakan mata, banyak humor yang cukup menggelitik, dan banyak juga kejutan yang dihadirkan. Berbeda dengan dua film sebelumnya, saya bisa merasakan chemistry Peter Parker dan MJ di sini yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kecanggungan yang membuat cringe sudah tidak ada, there’s character development on that aspect.


Bicara tentang character development, saya heran kenapa di film ketiga ini kita masih membahas tentang Peter Parker yang masih egois, gegabah, dan masih suka bertindak sesuka hati tanpa pikir panjang. At this point, setelah semua yang telah terjadi kepadanya, dia harusnya sudah paham bahwa menjadi seorang superhero perlu banyak pengorbanan dan dia harus lebih mementingkan orang lain daripada dirinya. Friendly neighborhood Spider-Man apanya? Saya jadi paham kenapa J. Jonah Jameson benci Spider-Man di film ini, haha.

Banyaknya karakter musuh yang dibeberkan di trailer membuat saya khawatir film ini bakal kewalahan dalam pembagian porsi screen time. Tapi, saya berusaha berpikir positif karena Marvel sudah membuktikan bahwa jumlah karakter yang banyak tetap bisa dibuat proporsional melalui Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame. Dan… ternyata saya salah. Penulis skenario film ini tidak cukup mengerti apa yang harus dilakukan dengan karakter-karakter baru ini. Sandman dan Lizard di film ini hadir hanya untuk meramaikan adegan-adegan pertarungan, tanpa banyak dialog yang berarti.

spider man no way home doc ock 1

Meskipun begitu, para pemeran di film ini memberikan penampilan yang solid, terutama Willem Dafoe. Dia berhasil menunjukkan versi Green Goblin yang terasa setingkat lebih gila dan lebih menyeramkan dibanding yang pernah kita saksikan di film Spider-Man (2002), membuatnya benar-benar cocok dijuluki Spider-Man’s archenemy. Karena diisi dengan aktor-aktor kawakan, film ini sangat menghibur dalam hal interaksi dan dialog antar karakter.

Overall, meski memiliki banyak kekurangan, film ini masih sangat memuaskan. Terbukti dengan riuhnya suasana di studio tempat saya nonton film ini. Sayangnya, saya tidak bisa bicara banyak soal hal-hal yang membuatnya ‘memuaskan’ karena mostly termasuk spoilers. Banyak jokes lucu yang juga callback untuk film-film dari universe milik Sony di sini. Tapi fanservice itu yang juga menjadi bumerang untuk film ini. Plot film ini terasa terburu-buru dan lebih banyak berfokus pada nostalgia dan fanservice, bukannya pada cerita yang solid. Ada beberapa adegan yang seharusnya menyedihkan, malah terasa hambar bagi saya. Untuk ukuran cerita film yang membahas ancaman multiverse, saya rasa Spider-Man: Into the Spider-verse telah mewujudkannya dengan jauh lebih baik dan lebih impactful.

RATING: B