Review Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021): Problematika Anak Sultan

Review Shang-Chi – Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings menjadi film pertama yang saya tonton setelah bioskop (akhirnya) dibuka kembali. Saya sebenarnya sudah pasrah melihat spoilers bertebaran di mana-mana, namun syukurlah hal itu sama sekali tidak mengurangi kepuasan saya dalam menonton film ini. Bisa dibilang film ini adalah film origin story di MCU favorit saya setelah Guardians of the Galaxy.

adegan film shang chi legend of ten rings

Cerita Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings dimulai dengan sosok Wenwu, pemimpin organisasi rahasia yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu bernama The Ten Rings. Kesuksesan organisasi ini tidak terlapas dari peran sepuluh cincin (atau gelang) yang memberikan Wenwu kekuatan dahsyat dan juga umur yang panjang. Wenwu adalah sosok yang sangat berambisi untuk menguasai banyak hal, sampai akhirnya ia bertemu dengan Ying Li dan jatuh cinta padanya. Wenwu pun meninggalkan ambisinya dan memilih kehidupan baru sebagai kepala keluarga.

Shang-Chi adalah anak pertama Wenwu. Setelah ibunya meninggal saat ia berusia tujuh tahun, ia dididik keras oleh ayahnya untuk menjadi pembunuh dan agar bisa membantunya memimpin The Ten Rings ketika dewasa kelak. Karena ia tidak menyukai gaya didikan ayahnya, ia pun memilih kabur meninggalkan keluarganya dan tinggal di California. Amerika Serikat selama 10 tahun.

Meskipun telah mengasingkan diri dan mengganti namanya menjadi Shaun, Shang-Chi tidak bisa lepas dari jangkauan The Ten Rings. Ia dan temannya, Katy, diserang oleh sekelompok anggota The Ten Rings ketika sedang menaiki bus. Meskipun selamat, ia terpaksa harus menemui adiknya, Xialing, karena ia tahu target selanjutnya adalah adiknya.

shang chi xialing katy

Satu hal utama yang perlu diapresiasi dari Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings adalah koreografi untuk adegan-adegan pertarungan di dalamnya. Meskipun belakangan ini cukup banyak film aksi yang memiliki koreografi yang brutal dan intense, adegan pertarungan dan hand-to-hand combat di Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings terasa berbeda. Dikombinasikan dengan teknik pengambilan gambar yang unik, adegan pertarungan di film ini terasa lebih real dan spesial. Adegan-adegan itu mengingatkan saya dengan film-film Jackie Chan dan Jet Li yang pernah saya tonton ketika masih kecil dulu.

Saya suka bagaimana Marvel memodifikasi beberapa elemen di cerita asli Shang-Chi agar lebih relate dengan budaya China dan juga kontinuitas Marvel Cinematic Universe. Sebagai contoh, julukan The Mandarin tidak pernah digunakan Wenwu di film ini meskipun ia mengenakan sepuluh cincin khas milik The Mandarin di komik. Ini wajar, karena Marvel Studios juga sudah melakukan ini beberapa kali sebelumnya (re: penciptaan karakter baru/penggabungan karakter lama). Selain itu, sepuluh cincin sakral itu juga bentuknya malah seperti gelang, berbeda dengan yang ada di komik. Menurut berita yang saya dengar, bentuk gelang ini terinspirasi dari gelang-gelang yang biasa digunakan Shaolin. Ide yang sangat brilian, mengingat di komik cincin-cincin itu juga aslinya berasal dari sosok ras naga alien (?), dan sudah seharusnya berdiameter besar.


Berbeda dengan kebanyakan (atau mungkin semua?) film Marvel sebelumnya, Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings mengangkat cerita yang begitu personal, tentang keluarga. Awalnya saya bingung kenapa Wenwu dan anak-anaknya terkadang terlihat akrab tapi seringkali tidak sungkan jotos-jotosan bahkan terkesan tidak segan membunuh anak-anaknya sendiri. Tapi semua kebingungan itu terjawab pada akhirnya, dan saya suka bagaimana hubungan problematik ini dipaparkan dengan baik. Kita bisa berempati dengan keadaan Shang-Chi meski kita bukan anak dari seorang ketua mafia yang keji.

adegan film shang chi legend of ten rings wenwu 2

Saya sangat excited ketika Marvel mengumumkan bahwa Shang-Chi akan diperankan oleh Simu Liu. Karena saya sendiri sudah familier dengan karakternya di Kim’s Convenience. This guy has a great vibe! Tony Leung sebagai Wenwu juga tidak perlu diragukan lagi. Ia berhasil memberikan kesan warm tapi menyeramkan pada karakter yang ia perankan. Selain itu, saya bersyukur bahwa Awkwafina sebagai Katy tidak di sini tidak secerewet karakter-karakter yang biasa ia perankan. She’s great in here, a very helpful character. Dan finally, penambahan wajah-wajah baru seperti Meng’er Zhang sebagai Xialing, dan Fala Chen sebagai Ying Li, membuat film ini terasa fresh.

Overall, saya yakin Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings akan memuaskan baik penggemar MCU ataupun penggemar film biasa. FIlm ini sangat fun untuk ditonton. Komedi ada, action ada, romance ada, butuh apa lagi? Soundtrack-nya gimana? It slaps! Easter eggs ala film Marvel? Ada! Bahkan ada dua post credit scenes di film ini. Cameo Stan Lee saja yang tidak ada. 🙁

RATING: A