Review Moon Knight (2022): Kisah Tangan Kanan Dewa Mesir dengan Gangguan Mental

Review Moon Knight (2022) – Berbeda dengan serial-serial Marvel yang tayang di Disney+ Hotstar belakangan ini, Moon Knight adalah serial pertama berlatar Marvel Cinematic Universe yang mengenalkan kita dengan karakter utama yang benar-benar baru. Dengan budget penggarapan yang jauh lebih terbatas tentunya ini adalah sebuah tantangan yang lebih untuk membuat karakter baru ini memikat banyak orang.

review moon knight oscar isaac still

Moon Knight membahas tentang Steven Grant (Oscar Isaac), seorang pegawai museum yang memiliki masalah kepribadian ganda. Ia seringkali berpindah tempat dan melakukan hal-hal yang sama sekali tidak diingatnya di saat-saat tertentu. Belakangan ia menyadari bahwa kepribadian lain yang dimilikinya adalah seorang tentara bayaran bernama Marc Spector yang bisa berubah wujud menjadi Moon Knight.


Sebelum menonton Moon Knight, saya tidak tahu banyak tentang karakter tersebut. Satu-satunya hal yang saya tahu hanyalah ia seorang mercenary dengan kepribadian ganda yang mendapatkan kekuatannya dari dewa Mesir, dan banyak yang menyebutnya Batman versi Marvel Comics, mungkin karena seringnya ia beraksi di malam hari.

Hal pertama yang saya suka dari versi live action Moon Knight ini adalah kita tidak dikenalkan dengan Marc Spector terlebih dahulu, melainkan kita diajak mengenal Steven Grant dulu. Menurut saya ini membuat penonton, terutama saya, bisa lebih relate dan penasaran apa yang akan terjadi kepada karakter utama yang hanyalah seorang pekerja museum biasa, just an ordinary civilian, living a normal life. Langkah yang bagus.

review moon knight layla still

Selanjutnya ketika kita diperkenalkan dengan Marc Spector, kita bisa merasakan perubahan yang cukup drastis terutama dalam hal kepribadiannya. Di sini akting Oscar Isaac sangat saya acungi jempol karena ia benar-benar mampu menyesuaikan perannya ketika menjadi Steven dan juga Marc. Tidak hanya logatnya, tapi gerak-gerik hingga caranya menatap lawan bicaranya benar-benar berbeda.

Hal lain yang saya suka dari Moon Knight adalah love interest dari Marc Spector, Layla El-Faouly (May Calamawy). Perannya di dalam cerita bukan hanya sebagai pemanis saja, tapi benar-benar membantu Marc dalam misinya. Saya suka sekali dengan karakter perempuan tangguh seperti ini. Karakter tegasnya mengingatkan saya dengan salah satu karakter love interest favorit saya, Mary Jane Watson versi game Marvel’s Spider-Man garapan Insomniac Games.

Selain itu, kualitas CGI yang digunakan juga cukup bagus dan rapi meskipun ini hanya sebuah serial. Berbeda dengan CGI yang digunakan di Loki (2021) yang tidak mampu menutupi fakta bahwa banyak adegan dilakukan di dalam studio/indoor, di sini semuanya terasa realistis. Adegan-adegan aksi yang diberikan juga meskipun terkesan clunky di beberapa momen, masih terasa enak untuk dilihat. Soundtrack/scoring yang digunakan juga sangat pas, stand out, memorable, mempunyai ciri khas. Beberapa score mengingatkan saya akan Assassin’s Creed Origins (2017), game yang juga kental unsur budaya Mesir dan dewa-dewanya.

review moon knight still

Satu hal yang saya kurang sukai dari Moon Knight adalah karakter antagonisnya, Arthur Harrow (Ethan Hawke). Entah mengapa meskipun tujuan yang ingin dicapainya begitu berbahaya, tapi karakter ini terasa kurang mengancam/mengerikan. Padahal, suara dari Ethan Hawke ini sudah berat dan cukup threatening menurut saya. Seharusnya Arthur Harrow ini bisa dibuat lebih bengis agar konflik di dalam cerita menjadi lebih menegangkan secara keseluruhan.

Overall, serial Moon Knight ini adalah favorit saya dari semua serial MCU yang dirilis di Disney+ Hotstar sejauh ini. Alurnya pas (re: tidak cepat, tidak lambat), punya cerita yang cukup solid, diisi karakter-karakter utama yang lovable dan relatable, setiap episodenya terasa ‘daging’ tanpa ‘filler‘, dan cukup terasa ‘beda’ dengan film maupun serial Marvel kebanyakan. It’s just a very good show with a very satisfying finale.

RATING: A-