Review Midnight Mass (2021): Iman Buta yang Merusak

Review Midnight Mass – Belakangan ini Netflix kebanjiran banyak tayangan orisinal baru. Ini membuat saya sedikit overwhelmed dan bingung memilih mana yang sekiranya bagus dan tidak akan membuang waktu saya. Well, setelah beberapa kali missed dalam memilih tontonan yang bagus, akhirnya ada satu serial baru dengan nama sutradara yang saya tidak asing lagi. Serial itu adalah Midnight Mass, karya Mike Flanagan. Karena saya cukup puas dengan dua karya dia sebelumnya di seri The Haunting, tanpa pikir panjang saya langsung menontonnya.

Saya akan menjauhi spoiler di sini, karena cerita serial ini cukup twisted.

review midnight mass bahasa indonesia

Cerita Midnight Mass dimulai dengan kembalinya Riley Flynn (Zach Gilford) ke Pulau Crockett setelah dipenjara selama empat tahun karena kasus mengemudi dalam keadaan mabuk. Pulau Crockett adalah pulau kecil dengan populasi yang sangat kecil. Jadi, setiap orang mengenal satu sama lain dengan cukup baik di pulau itu. Selain Riley, ada juga seorang pendatang lain di pulau ini, Rama Paul (Hamish Linklater). Rama Paul adalah pendeta yang ditugaskan untuk menggantikan Monsinyur Pruitt untuk memimpin kegiatan gereja karena Monsinyur Pruitt jatuh sakit setelah melakukan perjalanan keagamaan. (Mungkin seperti ibadah umroh-nya umat Kristiani, ya.)


Kedatangan Rama Paul ini diikuti oleh beberapa kejadian aneh, seperti kucing-kucing yang mati di tepi pantai, penampakan sosok misterius di tengah kegelapan malam, hingga mukjizat yang terjadi pada Leeza Scarborough (Annarah Cymone) yang bisa kembali berjalan setelah bertahun-tahun duduk di kursi roda. Alih-alih menerimanya sebagai mukjizat seperti yang dilakukan oleh mayoritas warga pulau Crockett, Riley yang kehilangan kepercayaannya ketika mendekam di penjara mulai menaruh sedikit kecurigaan pada Rama Paul.

ulasan midnight mass bahasa indonesia

Ketika digarap dengan baik, plot yang membahas tentang cult bisa jadi karya yang fenomenal. Tapi, kebanyakan film tentang cult hanya fokus ke unsur gore atau kengerian ritual yang dilakukan. Beruntungnya, Midnight Mass tidak seperti itu. Midnight Mass bisa dengan baik menyajikan rasa takut melalui sebuah konflik masyarakat yang cenderung agamis.

Sejujurnya, dua serial Mike Flanagan terasa hit or miss menurut saya. Saya sangat menyukai The Haunting of Hill House, tapi saya cenderung kurang menyukai The Haunting of Bly Manor. Jika dibandingkan dengan Midnight Mass, ketiga serial ini terasa memiliki style yang mirip, menghadirkan elemen horor di kejadian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga yang disfungsional, kisah cinta yang memilukan, dan keimanan yang menyesatkan.

midnight mass review indonesia

Meskipun mirip, Midnight Mass memiliki pacing yang jauh lebih baik daripada The Haunting of Hill House dan The Haunting of Bly Manor. Selain itu, Midnight Mass juga tidak terasa terlalu slow seperti dua serial tersebut. Jadi, bagi kalian yang mudah kehilangan fokus ketika menonton film yang slow-burn, tidak perlu khawatir. Tahapan penguakan misteri-misteri di serial ini dilakukan dengan baik sehingga membuat kita penasaran dan ingin terus lanjut menonton episode-episode selanjutnya. Saya suka ketika satu demi satu masyarakat di pulau itu mulai merasakan kejanggalan dan kecurigaan.

Kualitas akting para pemeran film ini juga *chef’s kiss* perfect. Semua memiliki porsi yang pas di dalam cerita dan mampu membuat saya berempati ketika menontonnya. Baik pemeran protagonis maupun antagonis, hampir semuanya memiliki momen yang membuat kita paham dengan cara pandang mereka, kecuali Bev Keane (Samantha Sloyan). Saking jahatnya karakter ini, saya yakin Gus Fring juga merinding melihatnya. Evil, but necessary.

Satu hal tambahan yang membuat saya memberikan nilai lebih untuk serial ini. Serial ini mampu menampilkan sosok karakter muslim dengan sangat baik. Sheriff Hassan (Rahul Kohli) bahkan menunjukkan perilaku yang sesuai dan juga masuk akal bagi seorang muslim ketika dihadapkan dengan diskriminasi.

Overall, Midnight Mass adalah tontonan yang singkat namun amat berkesan. Serial ini mampu menunjukkan betapa seramnya masyarakat yang dibutakan karena imannya. Tidak hanya horor, serial ini juga memiliki beberapa momen yang cukup menyedihkan. Plot twist yang diungkap di tengah serial ini tidak membuat kualitas episode-episode setelahnya menjadi turun. Selain itu, ending Midnight Mass yang open-ended juga sempurna untuk menutup cerita yang bisa dikatakan hampir sempurna ini.

RATING: A