Review Loki (2021): Menjelajahi Multiverse bersama Loki dan TVA

Review Loki (2021) – Setelah mengumumkan film dan serial yang akan dirilis di phase 4 Marvel Cinematic Universe, para fans tentunya sudah paham bahwa Marvel Studios is upping their game. Di phase 4 ini mereka pada akhirnya akan memasuki ranah multiverse. Pertanyaannya hanyalah di film atau serial mana mereka memulai transisi ini, WandaVision, Loki, atau Doctor Strange in the Multiverse of Madness? Well, it starts from here.

Saya akan berusaha semampunya untuk tidak memberikan spoiler di tulisan ini, karena banyak sekali kejutan di serial ini yang akan sangat disayangkan jika bocor. Mari kita bahas.

loki mobius

Cerita Loki dimulai setelah Loki kabur menggunakan Tesseract yang terjatuh dari tangan Tony Stark masa depan yang kembali ke New York tahun 2012. Tesseract melempar Loki ke Gurun Gobi. Di sana ia didatangi oleh Time Variance Authority (TVA), yang menganggap kaburnya Loki tidak boleh terjadi karena akan mengacaukan timeline. Ia pun dibawa ke markas TVA karena dianggap sebagai “kriminal” dan timeline baru itu di-reset.

Di sana ia dijelaskan apa itu TVA, konsep multiverse, dan bagaimana sistem kerja TVA. Ketika Loki akan dijatuhi hukuman, Mobius, salah satu agen TVA, mencegahnya karena menganggap Loki bisa membantunya untuk memecahkan satu kasus penting yang sedang ditanganinya. Petualangan Loki dan Mobius dimulai ketika mengetahui bahwa kasus itu adalah memburu seorang variant (versi lain) dari Loki.

Hal pertama yang saya suka dari Loki adalah style latarnya, terutama ketika di markas TVA. TVA tampak berbeda tapi juga tampak familier. Meski terkesan advanced, ternyata banyak segi dari markas mereka yang sangat mirip dengan kantor pada umumnya, bahkan kadang terasa old-school. Soundtrack yang digunakan juga terdengar unik dan sangat cocok dengan atmosfir yang dibawakan.

mobius ravonna renslayer

Serial Loki bertindak sebagai pintu gerbang MCU menuju multiverse. Banyak sekali konsep multiverse yang dijelaskan di sini. Tidak hanya membahas konsep seperti Ancient One di Avengers: Endgame, di serial ini Loki juga bertualang ke beberapa tempat dengan periode waktu yang berbeda-beda. Dan, setiap latar tempat itu digarap dengan baik sehingga sangat memanjakan mata dan terlihat selevel dengan yang biasa kita lihat di film-film Marvel secara kualitas setnya. Hal yang membedakannya mungkin hanya sedikitnya karakter dan figuran yang ditampilkan dan terbatasnya gerak kamera di latar yang sama.

Karakter-karakter yang dihadirkan di sini juga sangat menyenangkan untuk ditonton. Ini berasal dari kombinasi yang pas antara kualitas akting, chemistry, dan kualitas skrip yang telah ditulis. Banyak momen konyol, haru, dan juga epic yang dihadirkan dengan sangat baik. Meskipun ada satu karakter yang membuat saya sedikit kesal di awal, serial ini mampu membuat kita menyukai mereka pada akhirnya. Loki mampu memberikan kesan bahwa…

“Tidak ada orang jahat yang benar-benar jahat, dan tidak ada orang baik yang benar-benar baik.”

– Kutipan asli dari Loki di serial ini

Berbeda dengan WandaVision, Loki mampu membangun hype dengan sangat baik. Dari enam episode, hanya episode ketiga yang terasa seperti episode filler. Meski sama-sama menyembunyikan karakter antagonis di akhir season-nya, Loki melakukannya dengan lebih baik. Rasa penasaran kita terbayarkan di akhir, dan semua terasa masuk akal. Tidak ada “tipu muslihat” seperti WandaVision. Jika WandaVision mentransformasi Wanda menjadi Scarlet Witch, Loki mentransformasi Marvel Cinematic Universe menjadi Marvel Cinematic Multiverse.

Overall, Loki sangat sayang untuk dilewatkan bagi kalian yang penasaran dengan kelanjutan MCU ke depannya. Saya cukup yakin event di episode terakhir serial ini akan berdampak banyak pada film-film Marvel selanjutnya. Dengan hanya enam episode dan durasi sekitar 50 menit per episodenya, serial ini tentunya sangat mudah untuk diikuti di tengah waktu luang. Loki bisa kalian tonton di Disney+ Hotstar.

RATING: A