Review Marvel’s Guardians of the Galaxy (2021): Petualangan Konyol Melawan Aliran Sesat

Review Marvel’s Guardians of the Galaxy – Berlangganan Xbox Game Pass mungkin adalah keputusan terbaik yang saya ambil dalam enam bulan terakhir. Sudah banyak game yang saya coret dari wishlist saya karena Game Pass, salah satunya adalah game ini. Out of nowhere, Xbox memasukkan Guardians of the Galaxy, game yang baru rilis akhir Oktober tahun lalu, ke dalam library Game Pass konsol dan PC. Mari kita bahas.

guardians of the galaxy game wallpaper

Game ini bukanlah lanjutan dari game dengan judul serupa buatan Telltale Games yang dirilis 2017 lalu, dan bukan juga adaptasi dari film buatan Marvel Studios yang disutradarai James Gunn. Plot cerita di game ini benar-benar baru dan tidak ada hubungannya dengan kisah-kisah Guardians of the Galaxy sebelumnya sehingga membuatnya cocok untuk dimainkan oleh siapapun meski belum mengenal siapa Guardians of the Galaxy itu. (Ya mungkin hanya missed di sejumlah easter eggs.) Selain itu, meskipun sama-sama diterbitkan oleh Square Enix, (tampaknya) game ini juga tidak ada hubungannya dengan Marvel’s Avengers (2020) buatan Crystal Dynamics.

Mulai dari sini saya akan menyebut game ini dengan singkatan GOTG saja. Karena capek, bor.

guardians of the galaxy space wallpeper

Meskipun adalah game GOTG pertama buatan Eidos-Montréal, mereka tidak menjadikan game ini sebagai origin story. Tim GOTG sudah beranggotakan Peter Quill/Star-Lord, Gamora, Drax, Rocket, Groot sejak awal game, namun beberapa dari mereka adalah anggota baru sehingga seringkali masih terlihat jauh dari kata ‘kompak’.

Cerita dimulai ketika mereka berniat buruk untuk menangkap monster di Quarantine Zone dan menjualnya ke Lady Hellbender demi sesuap nasi. Ketika di sana, Peter dan Rocket menemukan sebuah batu akik kuning yang bisa membuat Thanos memasang muka begini:

a49DmRND 700w 0

Ketika Peter memegang batu itu, sesosok alien agresif keluar dari dalamnya dan berusaha menyerang makhluk hidup apapun di sekitarnya. Tak menyadari apa yang telah mereka lakukan, Rocket mengira itu mungkin hanya semacam ikan sapu-sapu yang tugasnya membersihkan Quarantine Zone.

Ketika hendak keluar dari Quarantine Zone, mereka kepergok oleh Nova Corps dan akhirnya ditangkap. Peter yang “pernah dekat” dengan Ko-Rel, kapten yang memimpin armada yang menangkapnya, membujuknya untuk melepaskannya dan Ko-Rel pun mengiyakan dengan syarat ia membayar denda dalam waktu yang mereka sepakati.

guardians of the galaxy game screenshot lady hellbender wallpaper

Ketika akan membayar denda, mereka menemukan bahwa para Nova Corps seperti sedang terkena mind control dan berusaha mengajak mereka untuk bergabung dengan Universal Church of Truth yang dipimpin oleh Grand Unifier Raker.

Hal positif pertama dari game ini adalah karakterisasinya. Game ini sangat padat dialog dan surprisingly percakapan yang disuguhkan sama sekali tidak membosankan. Tidak sekalipun saya meng-skip dialog di game ini. Banyak jokes yang diselipkan di berbagai obrolan dan celetukan antara anggota GOTG yang tentunya sangat sayang untuk dilewatkan. Meskipun tidak selucu film pertama GOTG, setidaknya game ini memiliki candaan yang tidak cringe seperti film GOTG vol. 2.

guardians of the galaxy game fin fang foom wallpaper 1

Dari segi cerita, hm, it’s pretty good. Jangan salah, ‘pretty good‘ bagi saya adalah pujian yang solid. Game ini berhasil menghadirkan cerita yang fresh di tengah era remaster dan remake. Meski ancaman yang dihadapi tim GOTG di game ini cukup serius, kualitas storytelling game ini mampu membuatnya tetap fun dan bahkan heartwarming di beberapa momen. Plot film ini begitu efektif membuat saya makin mencintai karakter-karakter utama di game ini. Game ini juga mampu memisahkan momen konyol dengan momen emosional dengan lebih baik dibandingkan dengan film-film GOTG.


Meskipun tidak bisa dibilang memiliki kualitas grafik yang terbaik di masa ini, game ini tetap mampu memanjakan mata sehingga membuat saya betah memainkannya dan penasaran akan mengunjungi tempat apa lagi setelahnya. Selain itu, desain karakter dan juga environment di game ini seperti memiliki ciri khas yang membuatnya stands out, colorful dan terdiri dari partikel kotak-kotak(?). Desain karakter-karakter wanita di game ini juga cakep-cakep untuk ukuran game yang dipenuhi alien dan monster. I simp hard for Gamora and Lady Hellbender. :”)

guardians of the galaxy game wallpaper gamora

Sayangnya, game ini terasa kurang dari aspek yang membuatnya disebut game, yaitu gameplay. Combat di game ini terasa sangat gampang di difficulty Normal. Saya sudah bisa meng-unlock semua skill bahkan pada saat masih sekitar 65% story progression. Setelah ter-unlock semua, combat terasa kurang menantang. Meskipun diiringi soundtrack yang seru, gameplay game ini tetap tidak terasa satisfying. Berbeda jauh dengan game-game superhero lain seperti Marvel’s Spider-Man (2018) dan game-game Batman Arkham.

Game ini juga punya sistem autosave yang aneh. Jika kita melewatkan suatu item di satu chapter kita harus mengulang lagi dari awal chapter itu, tidak bisa mengulang di checkpoint tertentu. Ditambah lagi dengan ketidakseimbangan durasi antar chapter, ini bisa cukup annoying untuk para trophy hunters. Ada beberapa chapter yang sangat panjang, ada chapter yang sangat pendek. Untungnya saya menggunakan bantuan guide dari awal agar tidak ada outfit yang terlewat, hanya collectibles saja yang masih banyak terlewat.

guardians of the galaxy game game team wallpaper

Overall, saya sama sekali tidak menyesal memainkan game ini. Game ini dipenuhi visual yang memanjakan mata dan mampu membuat kita escape sejenak dari dunia kita. Tapi, kurang menantangnya gameplay membuat game ini lebih terasa seperti film daripada game, karena game ini lebih menjual dari sisi plot cerita daripada gameplay. Meskipun Square Enix bilang bahwa game ini tidak sukses dalam hal finansial, saya kira game ini cukup sukses memenangkan hati para gamers. Semoga para developer game ini menganggap itu sebagai pelajaran, bukannya jadi alasan untuk tidak membuat sekuel game ini.

RATING: A-