Review Eternals (2021): Ketika Makhluk Mempertanyakan Keputusan Sang Pencipta

Review Eternals – Perasaan saya agak tidak nyaman sebelum menonton film ini. Selain karena film ini dihujani review yang buruk, juga karena saya takut ini bakal seburuk Black Widow. Untuk mengantisipasinya, saya tidak berekspektasi apa-apa sebelum masuk ke bioskop. Just give me Gemma Chan, and I’ll be happy. 🙂

Eternals mengajak kita mundur jauh ke zaman awal peradaban manusia, ketika para Eternals pertama mendarat di bumi. Ya, para karakter Eternals di sini adalah alien yang datang ke bumi ribuan tahun lalu. Mereka diciptakan dan dikirim oleh Celestials untuk melindungi manusia dari Deviants, sosok ras monster yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Mereka tidak boleh ikut campur dalam urusan manusia (meskipun keberlangsungan hidup mereka terancam) kecuali ada Deviants di dalamnya. Strange rule, but okay.

eternals casts

Karena main event di Eternals ini terjadi di era modern dan para Eternals ini sudah berada di bumi ribuan tahun lamanya, film ini mempunyai alur cerita yang lompat-lompat. Ada beberapa adegan yang diambil di kota-kota zaman dahulu seperti Mesopotamia dan sebagainya. Mostly kita kembali ke zaman-zaman itu hanya untuk flashback saja, bukan ada kejadian penting yang akan berpengaruh dengan kejadian di masa modern.

Jujur, pada bagian awal film dan adegan-adegan flashback terasa cukup membosankan. Apalagi dengan karakter yang cukup banyak, saya mulai percaya bahwa film ini seburuk apa yang dikatakan oleh para kritikus. Tapi seiring berjalannya cerita, saya mulai suka film ini. Terutama ketika mereka sudah bertemu Kingo (Kumail Nanjiani) dan asistennya, Karun (Harish Patel), di masa modern. Mereka berdua membuat film yang dipenuhi karakter-karakter dengan konflik internal ini lebih fun dan berwarna.

adegan eternals scene ikaris

Konflik internal? Maksudnya gimana? Misal, Ikaris (Richard Madden) dan Sersi (Gemma Chan) di sini agak awkward karena mereka adalah pasangan yang sudah berpisah lama tanpa alasan yang jelas; Druig (Barry Keoghan) seperti penyendiri yang mempunyai idealisme sendiri di luar tujuan utama kelompok; Lalu, Ajak (Salma Hayek), yang meskipun adalah pemimpin mereka, sosoknya malah lebih mirip sesepuh, sehingga ia tidak terasa menyatu dengan kelompoknya, apalagi setelah konflik yang pernah terjadi karena keputusannya di masa lampau.


Film ini sering menyebut mereka dengan istilah “keluarga”, tapi mereka tidak benar-benar terasa seperti keluarga. Kalau “rekan kerja” mungkin masih pas. Saking seringnya menunjukkan mereka sebagai “keluarga” secara verbal, film ini lupa menafsirkannya ke dalam skenario-skenario yang sesuai untuk menunjukkan sikap kekeluargaan mereka. Sangat aneh untuk kelompok yang sudah bersama selama ribuan tahun. “Ketidakdekatan” mereka ini terbukti ketika plot twist film terjadi.

adegan eternals scene angelina jolie

Despite those things, menurut saya penulis skenario Eternals sudah bekerja dengan cukup baik dalam membagi porsi tiap karakter di dalam cerita. Tiap karakter memiliki peran yang cukup signifikan dalam menggerakkan plot. Basic plot yang disuguhkan juga cukup menarik untuk ukuran kisah yang (menurut saya) cukup susah untuk diterjemahkan ke dalam film live action. Selain itu, tiap karakter juga memiliki kelebihan dan kegemaran masing-masing yang membuat kita relate dengan mereka.

Tapi semua hal yang membuat kita relate itu dihancurkan dengan plot twist yang out of nowhere di akhir film. Di akhir film, para Eternals tiba-tiba pecah jadi dua kubu. Perpecahan ini benar-benar terjadi secara tidak natural dan malah menimbulkan banyak pertanyaan dan juga plot holes. Kenapa konflik baru terjadi di kala keadaan sudah genting? Kenapa baru diungkap ketika semua Eternals sudah berkumpul? Saya tidak mau membahas secara detail karena akan menjadi spoiler. Selain itu, ada beberapa karakter yang motivasinya sangat tidak masuk akal, dan membuat character development menjadi sia-sia.

adegan eternals scene sersi

Selain itu, sosok Deviants yang sebetulnya penting di film ini malah tidak dieksplorasi sama sekali. Deviants di sini hanyalah monster CGI yang harus dibasmi, that’s it. Bahkan ada satu Deviant yang dipaksa masuk ke final fight tanpa tujuan yang jelas. Sepertinya penulis skenario tahu sosok Deviants itu penting tapi bingung bagaimana memasukkannya ke dalam cerita yang sudah memiliki terlalu banyak ide di dalamnya. Kualitas CGI yang disuguhkan untuk mereka juga tidak ada yang istimewa.

Bicara soal CGI, CGI untuk karakter-karakter Eternals itu sendiri terlihat cukup memukau, not gonna lie. Mereka seperti punya style VFX tersendiri. Saya juga suka animasi Makkari (Lauren Ridloff) sebagai speedster di sini. Meskipun kita sudah sering menjumpai speedster seperti The Flash, Quicksilver, dan sebagainya, animasi Makkari yang tanpa dibumbui slow-motion tampak unik jika dibandingkan dengan yang sudah-sudah. CGI untuk sosok Celestials juga cukup membuat merinding.

Overall, Eternals berhasil memberikan visual dan adegan aksi yang memukau. Eternals memiliki plot yang sangat potensial, tapi plot tersebut terjegal oleh plot twist yang cukup anti-klimaks. Saran saya jika anda ragu akan kecewa dengan film ini, jangan memberikan ekspektasi yang tinggi. Saya pribadi menyukai film ini karena karakter-karakternya. And, that’s enough for me. Lagipula, tugas film pertama memang seharusnya membuat karakter-karakter baru likeable.

RATING: B-