Review Dune (2021): Planet Rempah dan Pergulatan Politik

Review Dune – Dune merupakan film adaptasi dari sebuah seri novel yang cukup terkenal. Bahkan, banyak yang menyebut Dune sebagai novel science fiction terlaris sepanjang masa. Film ini menceritakan paruh pertama dari novel Dune. Karena saya belum membaca novelnya ataupun menonton film adaptasi terdahulunya, saya akan membahas film ini dari sudut pandang penikmat film saja.

adegan film dune scene

Pada tahun 10191, Leto Atreides (Oscar Isaac), pemimpin sekaligus komandan dari House Atreides dari planet Caladan, menerima tugas kepengurusan planet gurun Arrakis. Planet Arrakis yang juga disebut Dune adalah satu-satunya sumber dari rempah dan juga zat paling berharga di alam semesta bernama Melange. Rempah ini bisa memperpanjang umur, meningkatkan kemampuan berpikir, dan mempermudah perjalanan antarbintang.

Keputusan pergantian kepengurusan ini tidak disetujui oleh pengurus sebelumnya, House Harkonnen. Mereka membuat proses transisi kepengurusan menjadi sulit dan mencoba menyerang House Atreides yang sudah menempati Arrakis. Di sisi lain, Paul Atreides (Timothée Chalamet), putra dari Leto, dipercaya sebagai Lisan al-Gaib, sosok Messiah/Mahdi yang diramalkan akan membawa perubahan pada kehidupan suku Fremen, penduduk asli Arrakis yang selama ini hidup dalam kesulitan.

review dune stills

Dalam hal sinematografi, Dune memiliki banyak shots yang memanjakan mata. Saya setuju jika Dune dibilang sebagai salah satu film yang wajib dinikmati di bioskop untuk mendapatkan pengalaman menonton yang maksimal. Teknik pengambilan gambar yang digunakan juga efektif dalam membangun atmosfir yang sesuai dengan desain environment megah film ini.

Meskipun tidak menghadirkan visual luar angkasa yang penuh warna seperti halnya Guardians of the Galaxy atau Star Trek saga, visual yang dihadirkan sudah pas dengan desain environment-nya. Adegan-adegan di gurun pasir yang harusnya terkesan dull berhasil disulap menjadi menakjubkan. CGI yang digunakan di banyak adegan juga tampak realistis dan seamless. Dari segi visual, Dune tidak perlu diragukan lagi.


Meskipun memuaskan dari segi visual, saya kurang cocok dengan cara eksekusi plot film ini. Film ini termasuk film yang slow burn seperti Blade Runner 2049. Tapi, berbeda dengan Dune, Blade Runner 2049 adalah film yang utuh dan tidak memerlukan sekuel untuk menyelesaikan plotnya. Jujur, saya sebenarnya kurang menikmati Blade Runner 2049 pada awalnya karena kurang fokus, sehingga malah mengantuk. Tapi, pada second-viewing, saya fokus dan baru menyadari betapa bagusnya film ini jika ditonton serius. Saya tidak bisa berkata hal yang sama pada Dune untuk saat ini. Tapi, tidak menutup kemungkinan saya akan menyukainya jika plot film ini sudah dilengkapi dengan sekuel nantinya.

review film dune indonesia

Selain itu, Dune, yang merupakan paruh pertama dari plot sebuah novel, menghabiskan banyak waktu di hal-hal yang sebenarnya bisa dipersingkat. Saya rasa porsi pemotongan cerita lengkap Dune kurang pas, tapi saya tidak bisa memastikan karena saya sendiri belum membaca novelnya. Harusnya, konflik politik tidak perlu dipaparkan secara bertele-tele karena, well, you know, politics is kind of boring. Fokus film ke pemaparan konflik yang bertele-tele ini juga menyebabkan adegan serangan Harkonnen di akhir film menjadi kurang exciting dan menegangkan.

Seharusnya, film ini bisa lebih dipadatkan dengan detail-detail kecil untuk memperkaya cerita, misalnya pemaparan suku Fremen yang sebenarnya tidak kalah penting dalam cerita film ini, atau penjelasan lebih tentang Bene Gesserit dan ‘rempah’ yang kaya kegunaan dari Dune. Semua elemen penting itu masih dibiarkan samar di film ini.

dune review bahasa indonesia

Para pemeran di film ini saya rasa sudah memberikan kemampuan terbaik mereka dalam akting. Namun, cerita yang masih setengah membuat pengembangan karakter belum begitu terasa. Ini membuat saya cenderung kurang bisa relate dengan banyak karakter utama di film ini. Misalnya, hubungan Paul dengan kedua orang tuanya tidak terasa seperti orang tua dan anak di sini, dan saya tidak paham kenapa hubungan mereka seperti itu. Saya hanya bisa berasumsi, mungkin hubungan orang tua dan anak di keluarga bangsawan memang seperti itu. Saya harap di film kedua nantinya, Dune bisa memberikan pengembangan karakter yang jauh lebih baik sehingga penonton bisa lebih relate dengan karakter-karakter utama.

Sejujurnya, saya sedikit meninggikan ekspektasi saya setelah menonton satu trailer film ini dan menyimak sejumlah ulasan yang sangat positif dari banyak reviewer. Ini membuat otak saya aktif membandingkan Dune dengan film-film lain yang berperan sebagai pembuka saga ketika menontonnya dan setelah menontonnya. Dibandingkan dengan film-film pembuka lain, semisal The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring dan Rise of the Planet of the Apes, Dune masih berada di bawahnya terutama dalam hal keutuhan plot dan pengembangan karakter. Bagi saya, karakter yang likeable di film ini hanya ada dua, Leto Atreides dan Duncan Idaho (Jason Momoa).

Overall, Dune adalah pembuka yang bagus untuk sebuah kisah baru, tapi bukanlah film yang bisa berdiri sendiri. Plot film ini benar-benar terasa incomplete. Tidak bisa dipungkiri, dunia perfilman saat ini butuh franchise dan kisah-kisah baru untuk meramaikan pasar yang didominasi film-film superhero, dan universe Dune tampaknya bisa menjadi tempat untuk memulai sebuah kisah baru yang sangat menarik.

RATING: B