Review Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022): Horor dan Ancaman Multiverse

Review Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022) – Akhirnya film yang ditunggu-tunggu banyak orang ini rilis juga di Indonesia. Setelah di-tease oleh Loki, What If..?, dan Spider-Man: No Way Home, apakah film ini mampu secara gamblang menyajikan petualangan multiverse dan menjelajahi segala kemungkinan yang tidak terpikirkan para fans sebelumnya?

review doctor strange 2 indonesia

Doctor Strange in the Multiverse of Madness dimulai dengan adegan kejar-kejaran America Chavez bersama Doctor Strange universe lain dari sosok monster/iblis yang berusaha mengambil kekuatannya. Saat terpojok, America berhasil membuka portal dan dengan bantuan Doctor Strange yang sekarat mereka kabur ke universe 616, universe MCU utama yang kita saksikan selama ini. Di sana America bertemu Doctor Strange lain dan Wong, ia pun menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mereka setuju untuk membantunya.

Kesalahan saya sebelum menonton film ini adalah saya telah menonton semua trailer-nya. Saya yakin jika kalian sudah nonton WandaVision dan semua trailer Doctor Strange in the Multiverse of Madness, kalian sudah bisa mendapat gambaran umum tentang bagaimana alur film ini secara keseluruhan walaupun plotnya tidak sesederhana Spider-Man: No Way Home. Meskipun begitu, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menghindari spoiler di ulasan ini.

doctor strange multiverse poster

Pertama-tama, saya rasa Marvel sendiri bingung menentukan mana yang perlu dimasukkan ke trailer, mana yang tidak. Bisa jadi karena mereka tidak yakin semua pengikut MCU sudah menonton WandaVision. Selain itu, film ini terasa seperti telah melalui banyak proses reshoot yang menyebabkan pacing-nya terasa berantakan dan beberapa adegan terasa janggal. Well, mau bagaimana lagi. Inilah risiko membuat film-film yang berada dalam satu timeline dan memiliki beragam titik temu. Berubah urutan rilis saja sudah bisa membuat skenario berubah total.


Hal terburuk yang bisa terjadi pada film MCU adalah Marvel Studios terlalu mengontrol alur cerita film agar terarah dan membuat sutradara serta penulis skenario hampir sepenuhnya kehilangan kendali dan kebebasan untuk berkreasi. Untungnya, meskipun beberapa bagian film ini terasa janggal (mungkin) karena campur tangan Marvel Studio, sentuhan horor Sam Raimi masih benar-benar terasa di sini. Sam Raimi seperti mendorong batasan rating PG-13 semaksimal mungkin agar bisa memasukkan adegan-adegan brutal anti-mainstream, menggelikan, dan penuh darah yang merupakan keahliannya ke film ini. Permainan audio dan scoring yang digunakan juga sangat membantu membangun experience yang mantap baik di adegan aksi maupun adegan menyeramkan.

Film ini juga tidak terasa ‘dull‘ dari segi visual seperti film MCU kebanyakan. Visualnya yang cukup colorful tapi juga dark di sejumlah adegan mampu membuatnya cukup ‘berbeda’. Banyak juga teknik pengambilan gambar yang unik di film ini. Pokoknya, aspek visual film ini memuaskan. Well, as expected from a Doctor Strange film.

doctor strange 2 review bahasa indonesia

Kualitas akting di film ini tidak perlu diragukan lagi. Menariknya, meskipun ini merupakan filmnya Doctor Strange, karisma dan kualitas akting Elizabeth Olsen (Wanda Maximoff) mengalahkan Benedict Cumberbatch (Doctor Strange). Bahkan bisa dibilang ini adalah sekuel dari WandaVision. Wanda memiliki lebih banyak kutipan ikonik dan adegan emosional di film ini. Sayangnya, tempo cerita yang cenderung cepat membuat adegan-adegan emosional ini tidak dimanfaatkan secara maksimal. Boro-boro emosional, saya merasa ngos-ngosan dan detak jantung naik tidak karuan ketika menonton film ini di format 4DX.

Sayangnya, meskipun terasa seperti sekuel WandaVision, ada key point dari ending WandaVision yang tidak digunakan di film ini. Hal kecil ini cukup membuat Wanda di sini seperti bukan Wanda yang saya ingat di akhir seri WandaVision dengan segala pengembangan karakternya. Banyak hal kecil seperti ini yang seharusnya bisa dipaparkan dengan lebih baik sehingga bisa memperbaiki film yang terasa berantakan ini secara keseluruhan. Harusnya film ini butuh durasi 2,5 – 3 jam untuk dapat mengembangkan plotnya dengan lebih baik.

wanda doctor strange 2

Satu hal lain yang cukup mengecewakan adalah strategi marketing Marvel membuat banyak orang berekspektasi tinggi. Mereka berani menunjukkan Charles Xavier di trailer pertama dan bahkan Captain Carter di salah satu trailer film ini, seolah-olah masih banyak karakter yang belum mereka tampilkan yang punya andil besar di dalam plot. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Kemunculan karakter-karakter baru di film ini terasa hanya seperti cameo. Saya sangat ingin membahas lebih dalam tentang ini, tapi sayangnya malah bisa jadi spoiler. Sorry. 🙁

Film ini bisa jadi memuaskan jika ditonton dengan ekspektasi yang sangat rendah. Sayangnya, sulit untuk berekspektasi rendah setelah melihat langkah berani Marvel membawa kembali Tobey Maguire dan Andrew Garfield untuk memerankan Spider-Man dan betapa memuaskannya serial-serial Disney+ mereka (Moon Knight, highly recommended!). Doctor Strange in the Multiverse of Madness masih bermain aman dalam aspek ‘multiverse‘ yang digadang-gadangnya. Bahkan saya bisa bilang, marketing dan (bahkan) judul film ini cenderung misleading. L move from Marvel.

RATING: B-