Review Black Widow (2021): Menyusuri Masa Lalu si Wanita Tahan Banting

Review Black Widow (2021) – Setelah rehat di tahun 2020, Marvel Cinematic Universe akhirnya kembali melalui film pertamanya di phase 4, Black Widow. Meskipun terasa telat, film ini mungkin bisa menjadi penghibur bagi para fans yang rindu dengan Natasha Romanoff sejak kematiannya di Avengers: Endgame 2019 lalu. Mari kita bahas.

Hantu dari Masa Lalu

Timeline film ini berada setelah peristiwa di Captain America: Civil War, ketika para anggota Avengers yang membelot dan memihak kepada Steve Rogers menjadi buronan pemerintah Amerika Serikat. Salah satu anggota itu tentu saja Natasha Romanoff alias Black Widow. Melalui koneksi yang dimilikinya, Natasha pun berhasil mendapatkan tempat tinggal yang jauh dari jangkauan pemerintah Amerika.

adegan film black widow

Di luar dugaannya, ternyata bukan hanya Jenderal Ross yang sedang mencarinya. Sesosok bertopeng tiba-tiba menyerangnya. Belakangan diketahui jika itu adalah Taskmaster, senjata baru Red Room untuk mendapatkan antidot yang diselundupkan seseorang ke dalam barang-barang milik Natasha. Natasha pun terpaksa mengubungi kembali keluarganya untuk mencari tahu cerita di balik antidot itu dan keberadaan Red Room, sebuah program rahasia yang dia kira sudah tiada.

Film tentang sebuah Keluarga Disfungsi

Bertemu kembali dengan keluarga setelah sekian lama terpisah tidak selalu menyenangkan. Di film ini, ayah, ibu, dan adik Natasha bahkan bukan sebuah keluarga sungguhan pada awalnya. Mereka hanyalah sekelompok orang yang kebetulan bertemu karena Red Room. Natasha dan Yelena yang dulunya sangat akrab dan menganggap Alexei dan Melina sebagai sosok ayah dan ibu mereka sudah tidak merasakan hal yang sama.

Sayangnya sisi kekeluargaan di film ini kurang dimanfaatkan dengan baik di dalam cerita. Seringkali momen-momen penting di film ini tertutup dengan jokes dari Alexei (Red Guardian). Ironisnya, saya hampir tidak tertawa sama sekali pada adegan-adegan yang seharusnya lucu di film ini. Penulis skenario film ini tampak terlalu memaksakan untuk menyelipkan humor di film ini.

black widow scene

Hampir tidak ada momen mengharukan di film ini meskipun ini adalah film ini basically adalah film tentang keluarga. Sangat disayangkan mengingat ini bisa jadi adalah film terakhir Scarlett Johansson sebagai Black Widow. It’s supposed to be a meaningful end.

Meski begitu, chemistry Natasha dengan Yelena cukup terasa di film ini. Meskipun mereka berdua tidak akur di awal film, mereka benar-benar seperti adik dan kakak ketika sedang mengobrol serius. Interaksi dua karakter ini adalah salah satu dari segelintir hal yang saya suka di film ini.

Penuh Adegan Aksi Fantastis, tapi Kurang Realistis

Film ini beberapa kali mengingatkan saya akan Captain America: The Winter Soldier dan Thor: Ragnarok ketika menontonnya. Kenapa? Bisa dibilang film ini seperti mencoba menjadi keduanya, tapi gagal menemukan titik yang pas. Film ini seperti bingung antara ingin menghadirkan aksi badass dan serius seperti Captain America: The Winter Soldier atau humor yang kental seperti Thor: Ragnarok. It’s trying too hard to be both, and it’s not a good thing.

film black widow taskmaster scene

Ada cukup banyak adegan aksi di film ini, tapi seringkali adegan aksi itu terlihat tidak masuk akal. Adegan aksi di film ini akan masuk akal jika dilakukan setidaknya oleh Steve Rogers, yang jelas-jelas memiliki serum super soldier di tubuhnya. Meskipun tidak memiliki serum apapun di tubuhnya, Natasha seperti tidak merasakan sakit sedikitpun setelah melakukan banyak aksi yang hampir meregang nyawanya. Bahkan ada adegan ketika dia masih bisa berlari dengan gesit meski baru saja jatuh dari sebuah cerobong asap yang saya perkirakan tingginya tidak kurang dari 15 meter.

Selain itu, karakter penting sekelas Taskmaster di film ini terasa sangat disia-siakan. Seperti yang saya bilang sebelumya, film ini mencoba menjadi Captain America: The Winter Soldier. Bukannya fokus kepada satu musuh yang sepadan dengan Natasha, film ini malah ingin Natasha menghancurkan sebuah organisasi yang bisa dibilang sangat berpengaruh di dunia. Mungkin ide itu terdengar keren pada awalnya, tapi ketika dieksekusi ide itu terasa sangat dipaksakan.

Overall, Black Widow menjadi awal yang lemah bagi phase 4 MCU. Semoga film-film selanjutnya, Shang Chi and the Legend of the Ten Rings, Eternals, dan juga Spider-Man: No Way Home tidak demikian. Menurut saya Black Widow seharusnya menjadi film spionase mengingat Natasha Romanoff adalah seorang mata-mata. Adegan-adegan aksi di film ini terlalu terekspos dan (tampaknya) menimbulkan banyak collateral damage, tidak rapi seperti aksi Natasha biasanya. Selain itu, film ini juga terasa seperti hanya sebuah set up untuk cerita MCU ke depannya.

RATING: C