Review Assassin’s Creed Rogue (2014): Hitam Putih Konflik Assassin dan Templar

Review Assassin’s Creed Rogue (2014) Assassin’s Creed Rogue adalah sebuah game dari seri Assassin’s Creed yang dirilis pada tahun 2014 lalu. Game ini, hingga sekitar tiga minggu yang lalu, adalah satu dari segelintir game Assassin’s Creed yang belum saya mainkan. Selain karena perilisan game ini dibayangi perilisan Assassin’s Creed Unity di tahun yang sama, sudut pandang game ini membuat saya kurang berminat memainkannya. Bagaimana tidak, di game ini kita bermain sebagai seorang pengkhianat Assassin Order, Shay Patrick Cormac.

Franchise Assassin’s Creed telah berubah haluan sejak perilisan Assassin’s Creed Origins pada 2017 lalu. Dari yang sebelumnya mengusung genre open-world story-oriented yang stealth-based, menjadi RPG dengan combat mechanics yang lebih intens. Saya sendiri, hingga sekarang, cenderung lebih suka Assassin’s Creed sebelum era Origins. Entahlah, gaya franchise yang lama terasa lebih original saja. Durasi game yang tidak begitu panjang dengan cerita yang relatable dan make sense membuatnya memorable dan membuat saya rindu memainkannya kembali.

Karena kerinduan itu, setelah menamatkan Assassin’s Creed Odyssey saya memutuskan untuk membeli Assassin’s Creed Rogue ketika diskon beberapa minggu lalu. Dan, well, I’m pretty satisfied with it. Kepuasan saya juga membuat saya ingin menuangkannya ke dalam tulisan.

Assassin’s Creed Rogue itu ibaratnya jembatan yang menghubungkan Assassin’s Creed III, Assassin’s Creed IV: Black Flag, Assassin’s Creed: Freedom Cry, dan Assassin’s Creed Unity. Ada beberapa karakter di game-game tersebut yang memiliki peran cukup signifikan di game ini.

Assassin’s Creed Rogue mengambil latar di Atlantik Utara tahun 1750-an, tepatnya pada masa Perang Tujuh Tahun antara Inggris dan Perancis. Shay Patrick Cormac adalah anggota Assassin Order era kolonial di bawah kepemimpinan Achilles Davenport. Di awal game dia adalah seorang anggota baru, yang masih menjalani beberapa latihan-latihan dasar Assassin.

Suatu pagi dia tidak sengaja mendengar percakapan Achilles dengan seorang Assassin senior, Adewale, yang membawa berita bencana gempa yang terjadi saat ia dalam misi mengambil sebuah artefak Piece of Eden di sebuah kuil di Haiti. Melihat kelihaian Shay dalam menakhodai kapal baru miliknya, Achilles pun memberinya misi untuk menyelidiki artefak lain yang yang berhubungan dengan kejadian tersebut.

Misi ini membawanya ke Lisbon. Di sana ia berhasil menemukan lokasi artefak tersebut. Namun, sebelum ia bisa membawa pergi artefak itu, tiba-tiba ada gempa dahsyat yang akhirnya meluluhlantakkan kota Lisbon. Shay pun merasa sangat bersalah atas hilangnya puluhan ribu nyawa, dan ia mulai merasakan kebencian dan keraguan terhadap Achilles dan Assassin Order. Tak lama setelah itu, ia pun memutuskan untuk bergabung dengan Templar Order.

Cerita yang diusung cukup oke, tapi terasa ada yang kurang. Game ini memang mampu membuat kita benci dengan Achilles sebagai karakter antagonis, tapi kebencian ini kurang digali dengan baik. Karena game ini masih ada embel-embel ‘Assassin’s Creed‘ di judulnya, seharusnya kita juga berhak untuk memperoleh point of view dari sisi Assassin, terutama Achilles. Di dalam cerita Achilles terlihat seperti seseorang yang seenaknya sendiri, dan para anggota Assassin lain seperti pesuruh yang nurut saja saat diperintah olehnya. Ini mengubah karakter Achilles yang forgettable di Assassin’s Creed III menjadi forgettable dan juga punchable di game ini.

Game ini sebenarnya adalah game standalone, tapi ketika memainkannya terasa seperti DLC. Gameplay mechanics yang digunakan masih sangat mirip dengan Assassin’s Creed III dan Assassin’s Creed IV: Black Flag, masih ada naval battle, skillset yang sama, dan seterusnya. Hal yang membedakan dari game-game lain mungkin adanya misi menangkap paus, mengentikan percobaan pembunuhan oleh para Assassin, dan adanya mini naval battle. Jujur, memori saya tentang Assassin’s Creed III dan Assassin’s Creed IV: Black Flag sudah mulai pudar, tapi saya cukup yakin beberapa hal itu tidak ada di dua game tersebut. Saya kira, karena pendeknya cerita dan minimnya inovasi, Spider-Man: Miles Morales adalah game sekuel standalone yang paling tidak niat yang pernah saya mainkan, tapi masih ada yang lebih tidak niat ternyata.

To be honest, misi-misi baru di game ini lumayan seru. Tapi seru saja tidak cukup, perlu juga integrasi ke dalam cerita agar sebuah game menjadi suatu kesatuan yang solid. Saya menemukan misi-misi tersebut secara tidak sengaja di dalam map. Tidak ada alasan yang membuat Shay untuk pergi ke sana, selain karena rasa penasaran kita sebagai player. Selain itu, banyak wilayah di map yang tidak sempat saya jelajahi karena tidak ada alasan untuk ke sana. Jarak yang jauh dan harus melewati laut yang luas membuat saya malas untuk mengunjungi daerah-daerah yang tidak muncul di misi-misi utama.

Sisi modern day di game ini sama membosankannya dengan modern day di era Assassin’s Creed IV: Black Flag hingga Assassin’s Creed Syndicate. Untungnya, entah kenapa di game ini saya cukup suka dengan naval battle-nya. Ini berbeda dengan saat saya memainkan Assassin’s Creed III dan Assassin’s Creed IV: Black Flag dulu. Saya sangat malas ketika ada misi ke laut. Tapi, susahnya untuk mendapat material yang cukup untuk meng-upgrade kapal masih mengurangi pengalaman naval battle di game ini. Pada akhirnya, naval battle di Assassin’s Creed Odyssey tetap yang paling top.

Mungkin kalian heran kenapa di awal tulisan saya bilang ‘puas’ memainkan game ini, tapi sejauh ini tulisan saya hanya berisi komplain. Apa yang membuat game ini memuaskan? Well, menjadi Templar. Game ini berhasil menyajikan misi-misi yang seru dan menantang. Berburu assassin sangatlah lebih seru daripada berburu Templar. Keseruan yang saya rasakan saat bermain cukup efektif untuk membuat saya mengabaikan kekurangan-kekurangan game ini. Selain itu, game ini juga cukup berhasil membangun persepsi bahwa tidak selamanya yang terlihat buruk itu buruk, dan tidak selamanya yang terlihat baik itu baik.

Setelah memainkan game ini, saya jadi tertarik untuk memainkan lagi game-game Assassin’s Creed sejak era Altair. Mungkin saya akan membahasnya juga jika ada kesempatan.

RATING: B