New Year, New Me?

Not gonna lie, tahun 2021 adalah tahun yang amat berat bagi saya dan keluarga saya. Resolusi saya untuk tahun lalu sebenarnya hanya satu: mendapatkan pekerjaan baru yang bisa membuat bangga orang tua sekaligus sesuai passion. Tulisan ini saya buat untuk pengingat diri saya di masa depan agar tidak pernah melupakan segala kesulitan di masa lalu sehingga saya tetap bisa maju seberat apapun hambatan yang saya temui nantinya.

Saya adalah tipe orang yang hanya bisa bahagia jika orang-orang yang saya sayangi bahagia. Memang banyak orang yang menyerukan konsep ‘lakukan apa yang kamu sukai, jangan biarkan orang lain mempengaruhi keputusanmu’, tapi saya bukan orang yang seperti itu. Kedua orang tua saya adalah orang yang bisa bangga hanya jika anaknya mendapatkan pekerjaan yang menurut mereka ‘aman’, menjadi pegawai negeri, atau pegawai BUMN. Jadi, ketika saya masih bekerja di perusahaan swasta, apalagi di bidang yang mereka tidak pahami, mereka akan terus menanyai saya apa saya sudah mencoba lowongan ini atau itu, dan sebagainya.


Saya tidak menyalahkan mereka, wajar jika orang tua ingin sesuatu yang terbaik untuk anaknya, menurut mereka. Saya sendiri juga ingin memenuhinya agar ketika ditanya teman-teman, “kerja di mana sekarang?” saya tidak perlu panjang lebar menjelaskannya, that simple. Because, I really hate small talks. Tapi, mendapatkan pekerjaan seperti yang mereka inginkan ketika tinggal di luar pulau Jawa (re: Pontianak) itu sulit, banget. Proses seleksi rekrutmen PNS dan BUMN yang diadakan di Pontianak sangat sedikit. Ketika gagal, biasanya harus menunggu lagi at least 6 bulan ke depan.

And then the pandemic hits…

Ini memaksa banyak proses rekrutmen dilakukan di cabang-cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, ataupun full online, termasuk tes CPNS. Banyak pemerintah daerah, kementerian, ataupun lembaga yang menyediakan fasilitas untuk tes di kantor cabang BKN. Saya harus memanfaatkan momen ini sebaik mungkin dan lulus di seleksi CPNS tahun 2021. Saya yang sudah terbilang nyaman dengan pekerjaan saya mulai berpikir bagaimana cara untuk mencapai tujuan saya tersebut. Setelah berpikir berminggu-minggu dan berdiskusi dengan keluarga dan teman dekat, saya akhirnya memilih untuk resign di bulan Maret 2021… A small price to pay for salvation.


Kenapa awal banget? Padahal kan pendaftaran dimulai pada Juli? Pertama, pekerjaan saya sebelumnya adalah sales representative produk yang pasarnya adalah internasional, hal ini menuntut saya untuk stand by terus menangani email perusahaan karena konsumen berasal dari banyak zona waktu yang berbeda. Saya adalah orang yang tergolong kesulitan multitasking untuk hal-hal yang berat seperti itu. Karena transaksi-transaksi yang saya tangani di perusahaan saya bernilai besar, saya tidak berani menanggung risiko jika ada kesalahan yang terjadi hanya karena saya kurang fokus dalam bekerja. Kedua, di seleksi terakhir di tahun 2018 yang saya ikuti, saya merasa kurang waktu belajar, terutama di materi TWK. Meski telah mengalahkan 40 orang lebih, nilai saya kalah tipis dengan peringkat pertama. Ketiga, prediksi saya pendaftar tahun ini akan membludak karena banyaknya orang yang di-PHK karena pandemi. Keempat, ada surat edaran yang menyebutkan bahwa di tahun 2022 nanti seleksi CPNS akan ditiadakan, hanya ada PPPK. Semua faktor tersebut membuat saya cukup khawatir tidak lulus lagi.

Setelah resign, saya betul-betul belajar. Saya beli beberapa paket bimbel, buku materi, dan paket TO dengan tabungan yang saya kumpulkan dari gaji saya. Rutinitas saya seminggu belajar materi, seminggu setelahnya TO, begitu terus setiap minggunya hingga waktu tes tiba. Saya sampai buat penanda jadwal belajar dan jadwal TO di kalender. Tidak lupa juga saya sholat Dhuha dan Tahajud jika sempat serta rutin sedekah. Dan ternyata jadwal yang ditargetkan BKN mundur terus, seperti dua tahun sebelumnya. I overprepared.

Di tengah masa-masa itu saya juga harus merelakan perempuan yang saya sayangi pergi (lagi). I don’t want to explain further on that, sorry. Selain itu, saya juga menjadi korban booming saham bank digital. Portofolio saya ambles hingga 60% lebih, dan belum recovered hingga sekarang. Lalu, di pertengahan tahun ada tiga kabar duka dari keluarga dekat di Surabaya yang menghantam saya dan keluarga. Pakpo, Bupo, dan Bude saya meninggal dunia. Sialnya, keluarga saya di Pontianak kesulitan untuk pulang ke Surabaya, selain karena pandemi, juga karena dana yang terbatas. Uang keluarga saya sudah terpakai untuk membangun rumah sejak awal tahun. It was really painful to see my mom cry out loud three times in less than two months.


Saya seringkali merenung setiap selesai sholat sejak saat itu. Bertanya-tanya, kenapa keluarga saya jarang merasakan kesenangan? Meskipun keluarga saya di Pontianak tergolong berkecukupan, keluarga besar saya di Surabaya bisa dikatakan dari kalangan dengan ekonomi menengah ke bawah. The problem was always money. Bahkan, mereka tidak bisa menderita penyakit yang aneh-aneh karena mahal untuk disembuhkan. Saya kuliah di kampus negeri di Surabaya juga untuk menghemat uang, daripada ngekos saya mending tinggal di rumah nenek. Tidak masalah pengap atau panas, yang penting bisa kuliah dengan hemat dan uang ortu saya bisa dipakai untuk membantu keluarga di Surabaya atau hal lainnya yang lebih penting.

Sejak saat itu saya mengubah tekad saya dari lulus CPNS menjadi lulus di instansi yang (kabarnya) memberikan penghasilan tinggi untuk pegawainya. Terkesan materialistis? Memang, tapi mau bagaimana lagi, I thought that was my most realistic way to bring happiness to the people around me. Saya juga menetapkan banyak nazar karena target saya menjadi lebih tinggi.

Ketika pendaftaran seleksi CPNS 2021 dibuka, saya pun akhirnya memilih untuk mendaftar di Pemprov DKI Jakarta. Tentunya hal yang tidak mudah, pelamarnya banyak dan nilai-nilai pelamar yang memilih instansi ini tahun lalu tergolong tinggi-tinggi. Tapi, setelah menonton sebuah video diskusi antara Habib Husein Jafar dan Helmy Yahya berikut, saya jadi semangat dan yakin bisa lulus.

Ketika saya menulis ini, seleksi masih berada di tahap masa sanggah Pengumuman Hasil Integrasi SKD dan SKB. Pengumuman final akan diumumkan pada 4-6 Januari nanti. InsyaAllah saya lulus.

result 2

Semoga ini adalah awal saya bisa membawa kebahagiaan bagi keluarga besar saya maupun diri saya sendiri. Aamiin!

Jadi, apa resolusi saya untuk tahun ini? Well, tentunya bertahan di Jakarta yang (katanya) keras. Selain itu, ya hanya ini:

resolusi 2022

And for anyone out there who is currently having a hard time, please hang on. The sun will shine on us again.